Review Buku Pendidikan Kaum Tertindas (Paulo Freire)

    Saya bukan tipe orang yang terlalu suka membaca, tapi saya menyukai orang-orang yang suka membaca (dengan harapan besar saya dapat mencotoh mereka). Sejauh ini prestasi terbaik saya dalam hal membaca, mungkin hanya sekedar membaca buku-buku fiksi karya Tere Liye atau mentok di Novel-novel pesantren yang mengisahkan tentang Gus-gus dan Ning-ning itu. wkwkwk, ahh ternyata itu lebih dari sekedar cukup untuk sekelas hiburan anak pondok waktu itu. 

    Pendidikan Kaum Tertindas mungkin jadi buku Nonfiksi pertama yang saya selesaikan. Dan semoga setelah ini akan ada banyak buku nonfiksi yang saya baca. Sedikit absurd memang ketika orang seperti saya yang terbiasa membaca buku-buku fiksi kemudian langsung beralih membaca buku nonfiksi, yang bahkan berbentuk terjemahan (Pendidikan Kaum Tertindas ini). Ahh ini sangat tidak rekomend bagi mereka yang ingin beralih dari membaca buku fiksi ke buku Nonfiksi. Just info, saya memulai membaca buku ini terhitung sejak bulan maret (tanggal tepatnya kebetulan saya lupa), dan baru saya selesaikan di tanggal 28 Agustus lalu, yang artinya saya membutuhkan waktu kurang lebih lima bulan (termasuk kendala malas hehehe) untuk meneyelesaikann membaca buku Pendidikan Kaum Tertindas ini. Waktu yang lama bukan?, untuk seorang mahasiswa menyelesaikan membaca buku, tapi ya sudahlah, setidaknya buku ini selesai juga walaupun ngga semuanya masuk dalam kepala.

    Tulisan ini saya buat, karena terinspirasi dari salah satu podcast milik Raim Laode yang membahas tentang cara membaca yang benar. Satu diantaranya yang saya ingat adalah sampaikan pada dunia tentang apa yang sudah kita baca, melalui sarana apapun sesederhana lewat instastory atau percakapan di coffe shop, yaa kira-kira begitu lah.

    Paulo Freire dalam bukunya Pendidikan kaum tertindas mengkritik keras terhadap pendidikan gaya bank barat. Ia memnganggap bahwa pendidikan gaya bank tidak bersifat membebaskan atau bahkan justru bersifat penindasan. Secara sederhananya gambaran dari pendidikan gaya bank ini adalah dimana Guru merupakan Subjek proses belajar dan Murid adalah Objeknya, Guru mengetahui segalanya dan Murid tidak tahu apa-apa, Guru mengajar dan Murid diajar, Guru Berbicara dan Murid mendengarkan, dan lain sebagainya. Maka disini kata Freire pendidikan gaya bank justru akan lebih memperkokoh atau memperkuat sistem penindasan. Mengapa demikian? Hal ini karena akan membuat siswa pasif dan menerima apa saja tanpa mengkritisinya. Singkatnya Freire juga mengatakan bahwa pendididikan gaya bank barat ini merupakan bentuk pendidikan yang antidialogis, yang mencederai sifat pendidikan itu sendiri, yakni membebaskan.

    Kemudian dalam bukunya Freire menawarkan gaya pendidikan yang ia namai, Pendidikan Hadap-Masalah, sebagai alat pembebasan. Kebalikan juga dari pendidikan gaya bank, pendidikan Hadap-Masalah yang ditawarkan Freire ini memiliki sifat dialogis, mengajak kepada kita sebagai pembaca untuk terus melanggengkan kritis, terus bertanya, dan terus saling memberi makna serta belajar. Maka, pendidikan ala Freire ini bisa saja menjadi pilihan untuk memutus proses penindasan dan ketidakadilan. Yaaa kurang lebih seperti itu.....

    Gimana menurut kalian tentang pendidikan ala Freire ini? Apakah cocok untuk diterapkan di Indonesia? Aahh itu terserah kalian lah gimana wkwk. Buku yang sangat berat bagi saya, tapi itu tadi, semoga akan lebih banyak buku nonfiksi yang saya baca setelah ini mwehehe.

Disclaimer: pada paragraf pertama, tanpa bermaksud Book Shaming yaaaa. 
(karena apapun buku bacaanmu, entah fiksi atau nonfiksi. Poin penting yang harus kamu ketahui, bahwa membaca buku adalah cara terbaik untuk menambah pengetahuan, wawasan, kosakata, dan keterampilan berfikir kritis) Bahkan buat aku sendiri, sampai sekarang juga gemar sekali membaca novel-novel.

Udah itu aja dulu yaaa wkwk, Sekian terima kasih.

See you......


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Matinya Socrates (Plato)

Review Buku 3726 Mdpl (Nurwina Sari)