Review Novel Laut Bercerita (Leila S. Cudhori)



Apa yang akan muncul di benakmu ketika mendengar kata “Orde Baru” atau “Tahun 1998”? Apakah hanya sebatas peristiwa turunnya Soeharto dan krisis moneter? Atau ada hal lain yang kamu pikirkan?

Dalam novel Laut Bercerita ini, Leila mengangkat cerita dengan latar Tahun 1998 atau pada masa Orde Baru, which is didalamnya termasuk memuat peristiwa-peristiwa besar yang melibatkan para Mahasiswa dan Buruh dalam menuntut hak-haknya yang dirampas oleh para pemimpin otoriter pada zamannya. Tentu ini sangat menarik untuk dibaca para Mahasiswa yang vokal dalam memperjuangkan suara rakyat -bahasa lainnya Aktivis, supaya lebih dapat feel-nya. Berangkat dari membaca Novel ini, aku merasa bahwa bagaimana perjuangan para Mahasiswa dimasa itu tidak main-main dalam memihak rakyat, semangat dan totalitasnya menyurakan kebenaran dan kebebasan demokrasi begitu luar biasa, maka makna Mahasiswa sebagai Agent of change disini bener-bener tercipta. Sehingga memunculkan pertanyaan dikepalaku, lalu Bagaimana dengan Mahasiswa sekarang? Bagaimana dengan diriku sendiri sebagai Mahasiswa? Aaghh ini sungguh pertanyaan yang manampar.

Biru Laut sebagai tokoh utama dalam Novel ini merupakan Mahasiswa jurusan sastra inggris di Universitas Gadjah Mada -dalam novel ini disebutnya kampus Bulaksumur. Laut Bersama teman-teman organisasinya (Winarta danWirasena) adalah kelompok mahasiswa yang selalu andil dalam berbagai aksi pembelaan terhadap rakyat tertindas, termasuk diantaranya adalah turun aksi tanam jagung di Blangguan tahun 1993, peristiwa ini sebagai bentuk protes mahasiswa dan rakyat terhadap perampasan lahan petani yang dijadikan pemerintah sebagai tempat latihan militer. Pada prosesnya, ini sangat tidak mudah, bagaimana mereka selalu dihantui oleh intel yang berkeliaran dimana-mana, ditugaskan untuk selalu mengintai dan mengawasi seluruh aktifitas para mahasiswa. Bahkan dalam novel ini, Laut bersama para teman-temanya sempat beberapa kali ditangkap dan disiksa oleh para aparatur negara karena dianggap mengganggu stabilitas kekuasaan otoriter yang dipimpin oleh presiden Soeharto. Kejam sekali bukan?

“Aku tak tahu Indonesia macam apa yang kalian alami sekarang, aku harap jauh lebih baik dibanding di masa hidupku, dan aku harap taka da lagi penculikan dan pembunuhan terhadap mereka yang kritis” Aaghh ngena banget kalimat ini

Pada intinya Leila dalam Novel ini mengajak kita untuk tidak tinggal diam terhadap penindasan, tidak tinggal diam terhadap keadilan yang tak kunjung datang, walaupun novel ini merupakan hasil penciptaan fiktif, tetapi Leila menulisnya berdasar pada bagaimana pengalaman para aktivis 98 yang ditahan pada masa orde baru, diantaranya adalah Neza Patria, Rahardja Waluya jati, Mugiyanto Sipin, dan beberapa aktivis 98 lainnya. 

Novel ini sungguh sangat menarik, banyak mengajarkan kepada kita tentang bagaimana sejarah sering kali dilupakan. Sejarah juga seharusnya menjadi teladan bagi para pembacanya, maka sejarah harus ditulis secara utuh dan menyeluruh sehingga nilai yang terkandung didalamnya benar-benar bisa terimplementasikan.

Udah itu aja dulu yaaa wkwk, Sekian terima kasih.

See you…..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Pendidikan Kaum Tertindas (Paulo Freire)

Review Buku Matinya Socrates (Plato)

Review Buku 3726 Mdpl (Nurwina Sari)