Review Buku Matinya Socrates (Plato)
Buku Matinya Socrates oleh Plato ini merupakan bacaan wajib bagi mereka yang bergelut dalam dunia Filsafat, atau dunia pemikiran secara umum, serta mereka yang mau menegakkan pikiran mereka. Yaaa kalimat sebelumnya, adalah kalimat yang tertulis di cover Buku bagian belakang yang saya tulis ulang, alasannya sederhana karena saya tidak benar-benar memahami isinya wkwk. Tapi tidak menjadi suatu masalah bukan si? Mungkin saja pemahaman akan saya dapatkan di kemudian hari. yaaa semogalah.
Dalam buku ini Plato menceritakan kembali secara rinci kejadian dimana detik-detik sebeleum dieksekusinya Socrates. Pada kasus ini Socrates divonis hukuman mati atas tuduhan telah meracuni pikiran pemuda-pemuda Philus (lokasi cerita -Kota di jaman Yunani kuno), dengan cara dia mengangkat serta mempertanyakan kembali hal-hal yang sebenernya ga jauh dari kehidupan mereka sehari-hari seperti jiwa, raga, kehidupan, kebenaran, kebajikan, keindahan, serta paling utama adalah kematian. Didalamnya, buku ini memuat dialog antara Socrates dan para sahabat serta para murid-muridnya dengan saling melempar pertanyaan, maka disini Socrates menjelaskan pandangannya secara radikal tentang semua aspek yang termuat sebagaimana hal-hal diatas. Selain daripada itu semua Socrates juga menjelaskan apa makna menempuh jalan filsafat. Maka melalui pertanyaan-pertanyaan mengenai berbagai persoalan kehidupan, akhirnya para pemuda Philus memiliki pandangan lain tentang arti daripada kehidupan, kematian, bahkan kehidupan setelah kematian.
Pada pengantar awal buku ini, saya disuguhkan dengan statement menarik milik Socrates yang kira-kira bunyinya seperti ini Filsuf sejati berjuang untuk membebaskan diri dari ikatan atau ketundukan pada kesenangan ragawi. Disusul dengan statement lanjutan Filsuf itu harus-terus menerus menjauhi keterlibatan yang sia-sia terhadap sesuatu wadak. Selanjutnya saya mencoba mengkorelasikannya sebagaimana dengan apa yang saya ketahui pada statement pertama, kalau dalam konsep islam kita mengenal apa yang dinamakan Syari’at, Thariqat, Hakikat, atau bahkan sampai ada yang menambahkan Ma’rifat didalamnya. Atas keterbatasan pengetahuan yang saya miliki mengenai empat hal diatas, saya akan mencoba menggambarkan sejauh yang saya ketahui. Kebetulan waktu dipondok saya masih ingat -kalau ngga keliru- pernah ngaji kitab Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Asfiya, didalamnya menjelaskan tentang disiplin Ilmu Tasawuf, didalam kitab tersebut Mushonif menjelaskan tentang bagaimana seorang Salik (orang yang menempuh perjalanan rohani) untuk mencapai titik tertinggi dalam disiplin ilmu tasawuf (Ma'rifat), harus melalui berbagai tingkatan-tingkatan sebagaimana diatas yakni Syariat, Tharikat, dan Hakikat. Mushonif mengumpamakan bahwa Syariat itu seperti laut, Thariqat seperti Bahtera atau Perahu, dan Hakikat seperti halnya Permata. Maka ketika seorang Salik menginginkan untuk menemukan permata, ia harus menaiki perahu serta memahami cuaca laut terlebih dahulu. Maka yang saya maksudkan dari korelasi penggambaran diatas dengan statement Socrates adalah, siapa saja yang mau menempuh jalan rohani (dalam hal ini Socrates menyebutnya sebagai filsuf) harus melepaskan serta membebaskan diri dari ikatan atau ketundukan pada kesenangan ragawi. Dalam konsep islam kita menyebutnya dengan Menahan Nafsu, yang nanti masuk kedalamnya berbagai bentuk tindakan (seperti zuhud, wara' dll), yaaa kurang lebih seperti itulahh
Kemudian pada statement kedua, saya juga seakan diingatkan kembali dengan sabda Nabi Muhammad SAW. yang sering disampaikan oleh kyai saya waktu dipondok dulu, lafadznya seperti ini:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ
الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ.
Artinya: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.”
Walaupun status kualitas daripada Hadis ini adalah Hasan, tetapi secara substansi seakan kita diajarkan bahwa ketika seseorang ingin menyempurnakan agamanya maka meninggalkan suatu perkara yang tidak bermanfaat adalah sebuah keniscayaan. Ini tidak jauh berbeda dengan apa yang di katakan Socrates diatas, bahwa siapapun yang ingin menyucikan jiwanya maka ia harus meninggalkan hal-hal yang sia-sia. Yaaa kurang lebih seperti itulah hehehe
Syukurlahhh setelah saya menyelesaikan membaca Buku Pendidikan Kaum Tertindas Karya Paulo Freire kemarin, saya menyambungnya dengan membaca buku Matinya Socrates milik Plato ini, yang artinya ini menjadi buku nonfiksi kedua yang saya selesaikan. Walaupun lagi-lagi ga bener-bener paham dan masuk ke dalam otak, tentang apa yang saya tulis diatas, ahh itu hanya pandangan subjektif saya yang jauh dari kata sempurna, yaa gitu lah kira-kira..… semoga setelah ini akan ada banyak buku lagi yang saya baca. Wkwk
Atas keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya dalam hal penulisan, saya mengakui kekurangan serta ketidaksempurnaan penulisan saya diatas, dan memohon kritik saran dari pembaca adalah sebuah kewajiban bagi saya, demi perbaikan saya di masa mendatang. Yaaa begitulahhh yaaa
Udah itu aja dulu yaaa wkwk, Sekian terima kasih.
Komentar
Posting Komentar